THIS IS MY WARUGA LIFE

Semua dimulai dari awal Februari 2021. Pada saat itu, waktu yang kulalui mulai sang mentari terbit hingga tenggelam, layaknya berlian yang jatuh dari langit tiap detiknya. Sungguh waktu yang sangat berharga. Walau terasa singkat tapi sangat berarti. Saat itu adalah saat dimana aku menghabiskan banyak waktu dengan membaca buku dan mengerjakan soal latihan demi seleksi perguruan tinggi. Tak hanya aku, namun juga kedua temanku yang merupakan duta dari ‘Wastra’ dan ‘Waruga’. Hanya sedikit waktu untuk kami bermain, itupun harus merelakan waktu istirahat kami di larut malam.

Hingga setahun lebih,  bencana COVID-19 telah melahirkan pandemi tiada akhir. Kondisi pandemi sangat menyulitkan kami untuk belajar. Tidak hanya belajar, namun pandemi membuat fenomena kejenuhan terutama terhadap gadget. Mungkin kedua temanku ‘Fara’ dan ‘Farra’ ini tidak terlalu terganggu dengan proses belajar mereka, karena mereka sudah lulus tahun kemarin. Berbeda denganku yang masih duduk di bangku SMA kelas tiga saat itu.

Waktuku untuk belajar terus berjalan mulai Februari hingga akhir April. Banyak sekali hal hal yang telah terlewatkan olehku karena kondisi ini. Hal tersebut dapat dibuktikan dari bentuk dan massa tubuhku yang berubah drastis. Teringat lagi ketika awal pandemi 2020, saat protokol ‘work from home’ pertama kali dikumandangkan, sebelum tubuhku mengalami kenaikan massa (baca: berat badan). Sepertinya banyak sekali hal yang ingin kulakukan ketika libur semester, namun impian itu terkubur habis dengan penuh sesal. Aku hanya bisa berandai untuk keluar rumah dengan membuat karya karya lagu originalku, dan hanya itu yang bisa kulakukan hingga tahun 2020 berakhir.

Di tengah kesibukanku aku berusaha untuk tetap mengikuti kegiatan Waruga, seperti menari, olahraga, melatih vokal, dan sebagainya. Meskipun harus jujur aku akui, sebagai Duta Waruga, masa-masa ujianku membuatku banyak melewatkan kegiatan penting. Tapi, aku berusaha untuk mengejar dan berbagi waktu.

Kegiatanku yang pertama adalah menari. Kegiatan ini berawal dari band ‘Friendship and Solidarity’ yang kubentuk bersama almarhum Om Henry dan Kak Rilna. Om Henry lah orang yang menginspirasi dan menginisiasiku untuk memulai membuat lagu, beliaulah yang telah mengajarkanku cara membuat lagu dan merubah nada nada menjadi harmonis ketika dimainkan bersama. Tak hanya Om Henry, Kak rilna juga membantuku mewarnai lantunan nada yang terucap menjadi suara dengan penuh warna. Kerja keras kami membuahkan hasil, kami berhasil melahirkan sebuah album dari lirik dan aransemen yang kami ciptakan, dan karya terbesar kami berjudul “Semesta”.

Lagu semesta menarik perhatian beberapa orang. Salah satunya adalah om Heri Lentho, beliau adalah seorang seniman yang telah membuat beberapa pertunjukan seni di indonesia. Beliau merasakan kesedihan dan emosi yang kusampaikan di lagu tersebut dan meminta kami untuk menyanyikan lagu “Semesta” untuk menutup acara ‘Eksotika Bromo’. Dari situlah kami menyiapkan koreografi bersama teman teman. Kegiatan kami dilakukan setiap hari Selasa dan Kamis di halaman depan mabes ALIT Surabaya. Aku dan Fara dipercaya sebagai penanggung jawab kegiatan ini. Nanti, di Eksotika Bromo, rencananya acara kami dilaksanakan pada 19-20 Juni 2021 dengan ratusan penonton dilautan pasir Gunung Bromo.

Kegiatan yang kedua adalah olah raga lebih tepatnya POA. kegiatan ini dimulai dari Mas Rakai, Program Manager ALIT, yang sering bermain bersama anak anak dampingan saat kantor ALIT masih di Jl. Ahmad Jais Surabaya. Mas Rakai mengajarkan kami tentang olahraga untuk anak anak usia dini menyesuaikan pertumbuhan mereka. Mengulang kembali semua yang diajarkan Mas Rakai, aku dan Fara mendampingi anak anak yang ada di dusun Krajan desa Palangsari untuk kegiatan POA dan beberapa permainan tradisional.

Satu minggu sekali, kami menyesuaikan jadwal untuk berangkat ke Tetirah Gayatri di Pasuruan. Anak-anak di sana sangat tertarik mengikuti kegiatan ini meskipun di bulan puasa mereka tetap semangat dan ceria. Kegiatan diadakan setiap hari Minggu sore setelah mereka berlatih tari di Tetirah. Tak jarang mereka mengajak teman-teman yang ada di dusun lain untuk ikut POA dan bermain bersama kita, meski jarak yang ditempuh lumayan jauh. Anak-anak biasanya menjemput kami di Tetirah, lalu kita berangkat bersama-sama lalu kita berkegiatan hingga matahari mulai tenggelam dan kami pulang kerumah masing-masing.

Kegiatan selanjutnya yaitu latihan vokal yang biasanya kulakukan di studio di mabes Alit dan dilakukan saat waktu senggang. Kegiatan ini biasanya dilakukan sendiri namun kadang kak Rilna ikut membantuku berlatih fokus suara ketika suara dipecah dan dia juga sering memberikan saran saran teknik vokal paduan suara gereja yang dahulu ia dapat saat masih di kampung halamannya Sikka, Flores. Tidak hanya fokus pada berlatih teknik vokal namun kami juga terkadang membuat cover lagu dengan mencoba membuat aransemen dengan original kami sendiri dan dengan gaya bermusik kami.

Penulis: M. Ranah Nirvananda (Duta Nasional WARUGA Dewa Dewi Ramadaya)