MAKNA TIRTA BAGI HINDU BALI

Tirta atau air suci menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi masyarakat Bali. Pengertian air suci merujuk pada air yang diambil dari sumber air lalu diupacarai, kemudian disebut sebagai tirta. Air suci ini sangat dibutuhkan dalam menjalankan kehidupan dan yajna bagi masyarakat Hindu Bali.

Yajna, ritual sembah yang dijalani masyarakat Hindu Bali senantiasa terkait dengan sarana. Salah satu fungsi sarana dalam Yajna adalah sebagai media konsentrasi untuk lebih mendekatkan diri pada Brahman (Sang Hyang Widhi) serta manifestasinya. Dengan fungsi yang demikian, sarana memiliki peran yang cukup penting dalam pelaksanaan upacara.

Bentuk sarana sangat beragam dan jenisnya ditentukan pula dengan jenis upacara yang akan diadakan. Umumnya, sarana terdiri dari tirta dan sesajen. Kesemuanya memiliki fungsi dan makna yang berbeda. Mengetahui makna dan fungsi sarana akan semakin membuat Yajna juga semakin utuh.

 

Makna Dan Fungsi Tirta Dalam Upacara Yajna

Air dalam kehidupan sehari-hari merupakan sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk lainya seperti, binatang, dan tumbuh-tumbuhan. Dengan adanya air, maka manusia dapat hidup dengan bersih, sehat dan dapat mencapai ketentraman. Penggunaan air dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari yang fungsinya air biasa disebut dengan odaka atau odakam.

Selain berfungsi sebagai sumber kehidupan, air juga memiliki fungsi yang sangat penting dalam upacara Yajna. Air dalam upacara Yajna memiliki fungsi yang sangat sakral, sehingga sering disebut air suci atau Tirta. Air suci dalam kitab Bhagavad Gita disebut Toyam atau toya. Dari sini dapat dikatakan, toya/tirta adalah air suci yang secara khusus dipergunakan dalam kaitanya dengan upacara keagamaan yang memiliki kekuatan magis dan religius (keagamaan) yang bersumber dari kekuatan Ida sang Hyang Widhi Wasa.

Makna Tirta, dalam kaitannya dengan persembayangan dan sehabis menghanturkan sembah, dilanjutkan dengan memohon/nunas tirta dengan ketentuan dipercikkan keseluruh tubuh masing-masing tiga kali, diminum tiga kali,dan diraupkan (diusapkan ke muka) sebanyak tiga kali, adalah sebagai penyucian bayu, sabda dan idep (perbuatan, perkataan, pikiran).

Jenis-Jenis Tirta

Dilihat dari cara memperolehnya, tirta dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

  1. Tirta atau air suci yang dibuat sendiri oleh Pandita atau Sulinggih.
  2. Tirta atau air suci yang diperoleh melalui memohon oleh pemangku/dalang/balian atau Sang Yajmana.

Dalam kaitannya dengan Panca Yajna (lima persembahan) maka jenis-jenis tirta dapat dibedakan menjadi enam macam yaitu:

  1. Tirta pembersihan, yaitu air suci yang digunakan untuk mensucikan atau membersihkan sarana (bebanten) upakara dan diri manusia sebelum melakukan persembahyangan. Pada umumnya di pura-pura, tirta pembersihan diletakkan di depan pintu masuk atau di dekat tempat dupa dan sentang.
  2. Tirta penglukatan, yaitu air suci yang fungsinya digunakan pada penglukatan atau pensucian alat upacara, bangunan atau diri manusia. Selain itu tirta ini, biasanya dipergunakan untuk mensucikan canang dan banten dengan cara percikan tiga kali. Tirta ini pada umumnya didapat dari para pandita dan telah di pasupati.
  3. Tirta Wangsuhpada, juga disebut dengan banyun cokor atau kekuluh yaitu jenis tirta yang digunakan pada akhir persembahyangan. Tirta ini sebagai simbol sembah dan bakti kita kepada Tuhan agar diberikan anugrah berupa air suci kebahagiaan.
  4. Tirta Pemanah, yaitu yaitu jenis tirta yang digunakan pada saat memandikan jenazah. Tirta ini diperoleh dari air suci pada saat upakara Ngening.
  5. Tirta Penembak, yaitu jenis tirta air suci yang digunakan saat memandikan jenazah yang maknanya mensucikan badan jenazah secara lahir dan batin.
  6. Tirta Pengentas, yaitu tirta yang fungsinya untuk memutuskan hubungan roh orang yang meninggal dengan badannya agar cepat melupakan keduniawian. Tirta ini merupakan penentu utama berhasilnya suatu upacara Ngaben. Tirta Pengentas pada umumnya dibuat oleh sulinggih.

Kalau dilihat dari penggunaannya pada persembahyangan agama Hindu sehari-hari, tirta dapat dibedakan menjadi tiga jenis, diantaranya:

  1. Tirtha Kundalini, yaitu tirta yang dipercikan ke badan sebanyak tiga kali ketika persembahyangan.
  2. Tirtha Kamandalu, yaitu tirta yang diminum.
  3. Tirtha Pawitra Jati, yaitu tirta yang diraup/diusap ke muka atau kepala sebanyak tiga kali.

Air suci/tirta tersebut, selain digunakan sebagai media untuk menghubungkan batin dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, penggunggunaan, tumbuh-tumbuhan, para pitara (roh suci leluhur) serta keharmonisan lainyadalam kehidupan di dunia ini.

Penulis: Dewa Gede Widya Bayu Putra (Pelajar SMA, Duta Desa Tampak Siring) dan I Komang Pebri (Pelajar SMA, Duta Desa Tampak Siring)