Pesan dari Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid, Ph.D

Disampaikan dalam ZOOM Temu Wicara dengan Duta Dewa Dewi Ramadaya pada saat Pelatihan Training of Trainer Duta Dewa Dewi Ramadaya, 27-29 November 2020

Selamat sore teman-teman semua. Saya senang dan bangga bisa berjumpa dengan teman-teman. Karena saya tadi dengar teman-teman semua dari perwakilan anak-anak muda yang berprestasi dari banyak bidang. Saya senang bisa bertemu dengan banyak talenta, usianya muda dan datang dari berbagai daerah, tetapi bisa kompak menjadi satu team.

Saya Dirjen kebudayaan, bekerja di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di bawah Mas Nadiem. Usia beliau juga masih muda, bahkan lebih muda dari saya. Saya melihat teman-teman ini punya talenta dan jalannya masih panjang ke depan. Saya sangat ingin kalian menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

Saya waktu sekolah dulu tidak sempat ikut training of trainer seperti kalian ini. Tidak ada lembaga-lembaga yang mengembangkan. Beruntung sekali teman-teman bisa punya kesempatan, apalagi bisa bertemu dengan teman-teman di Yayasan Alit. Saya harap kesempatan ini bisa menjadi batu pijakan untuk meningkatkan prestasi dan kapasitas masing-masing.

Salah satu tugas saya  di Kementerian sebagai Dirjen Kebudayaan adalah memastikan pelestarian dan pengelolaan budaya kita. Indonesia ini adalah negeri yang diberkahi dengan kekayaan alam dan kekayaan budaya yang luar biasa. Sayangnya, masih banyak orang yang belum menyadari bahwa kita ini memiliki kekayaan yang luar biasa. Belum bisa mengelola dengan baik, belum bisa memanfaatkan sepenuh-penuhnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran kita. Saya sering mengatakan, kalau kekayaan budaya kita ini dikelola dengan benar, apakah itu untuk keperluan pariwisata atau ekonomi kreatif atau bidang-bidang lain, kita akan makmur luar biasa. Karena berbeda dengan banyak bidang ekonomi lain, menggali kekayaan budaya itu tidak pernah ada habisnya.

Kalau misalnya di bidang pertambangan, yang digali tanah, diambil mineralnya. Dan itu ada umurnya. Kalau tambangnya habis, ya habis sudah. Perkebunan juga begitu,  kalau ditanami, tanahnya lama-lama menjadi kurus. Kenapa? Karena zat-zat mineral yang baik dalam tanah yang membuat tanaman itu lama-lama akan habis. Tanah sama juga seperti manusia. Perlu istirahat. Alam itu juga perlu diistirahatkan. 

Nah kalau kebudayaan yang digali. Semakin digali, semakin banyak yang keluar. Jadi tidak ada habisnya. Kelimpahannya luar biasa. Saya kira teman-teman bisa melihat dengan mata kepala sendiri. Terutama teman-teman yang datang dari kebudayaan yang masih kuat. Jadi salah satu tugas saya memastikan pelestarian dan pengelolaannya.

Training of Trainer ini menurut hemat saya adalah untuk meningkatkan kapasitas. Tetapi yang namanya meningkatkan kapasitas tidak pernah bisa datang dari luar. Kapasitas itu adanya di dalam kita. Yang bisa dilakukan oleh pelatihan dan lain-lain adalah memancing kapasitas yang dari dalam itu keluar dan berkembang. Jadi, kuncinya di teman-teman sendiri. Gurunya mau hebat, materinya  bagus, tetapi kalau dari kitanya itu tidak terbuka untuk berkembang, akan sulit.

Pesan saya untuk  mengikuti pelatihan ini adalah sikap terbuka. Ketika pikiran dan hati kita terbuka, maka kapasitas itu dengan cepat akan berkembang. Tapi kalau hati dan pikiran kita tertutup, gurunya mau bagus kaya apapun, materi itu bagus seperti apapun, sulit untuk membuat kapasitas kita berkembang.

Pariwisata yang tadi disinggung memang ingin berbasis kepada kebudayaan. Dan itu sudah sangat benar. Itulah jalannya. Karena tourism yang sifatnya massal, mendatangkan orang banyak dan hotelnya besar-besar, membangun bandara dan seterusnya, kecenderungannya justru mengubah dan merusak yang ada. Padahal pariwisata yang berbasis kebudayaan justru memanfaatkan yang ada. Tugas teman-teman mencari apa yang ada di kita sendiri, digali sedemikian rupa, dijadikan kekuatan, dan inilah bekal kita mengembangkan pariwisata ke depan. Bukan soal banyaknya orang yang datang, bukan tentang seberapa besar hotel yang kita miliki, seberapa besar bandara yang kita punya dan seterusnya. Itu sifatnya penunjang. Tapi intinya, kita ingin memperkenalkan kekayaan budaya kita pada orang lain.

Pengalaman saya, kalau saya pergi, saya ingin tahu, ingin belajar, bagaimana orang hidup di daerah lain. Apa keseniannya? Apa ukirannya? Bagaimana cara mereka makan? Apa makanan yang paling enak? Dan seterusnya. Pada dasarnya, saya pergi ke tempat itu bukan karena hotelnya besar, bukan karena bandaranya sudah mulus, bukan karena jalannya sudah enak, tetapi karena ada cerita.

Ini titipan dari saya, nanti saya mau cek dengan teman-teman di Yayasan Alit apakah ini dilaksanakan atau tidak? Saya ingin teman-teman di masa training ini sudah mulai memikirkan, apa cerita/narasi/story yang ada di daerah saya, yang bisa saya kembangkan? Dan ini yang menjadi inti kekuatan dari usaha kita mengembangkan pariwisata. Cerita, karena itu yang membuat orang-orang seperti saya, seperti pengunjung yang lainnya, tertarik untuk datang. Tidak usah jauh-jauh mencari ini harus ada strategi begini atau begitu. Lihat apa yang kita miliki. Pahami potensinya. Itu dikembangkan. Kalau itu dijalankan dengan pikiran terbuka dan hati terbuka, kita bisa membuat kapasitas kita berkembang.

Saya punya harapan besar bahwa ini bisa berjalan dengan baik. Saya liat wajah-wajah optimis, tangguh, berani dan komitmen mengembangkan pariwisata berbasis kebudayaan di daerah masing-masing. Tinggal sekarang pikiran dan hati terbuka, menerima banyak sekali masukan yang ada sehingga kapasitas kita berkembang.

Terakhir saya ingin mendoakan semuanya agar bisa mengikuti pleatihan ini dengan baik sehingga Ketika pulang bisa membawa manfaat bagi kita semua, terutama masyarakat. Pariwisata berbasis kebudayaan itu harus selalu berpangkal pada masyarakat. Pengrajin di kampung, ibu-ibu yang mempunyai kemampuan membuat kuliner, guest house yang di kampung-kampung, itu yang harus jadi inti kekuatan kita. Tidak terkecuali para seniman. Nanti boleh suatu waktu duta desa  ini dikumpulkan. Kita bikin acara bersama-sama. Jadi nanti kita bisa bertemu lintas generasi, lintas daerah, saling berbagi, bagaimana kita mengembangkan kita semua.

Jaga kesehatan, kita sekarang dalam keadaan yang sulit, memang tantangannya banyak sekali. Tapi saya percaya, dengan pemahaman disiplin tinggi ini bisa kita lalui bersama

Saya betul-betul menaruh harapan, pada teman-teman yang masih muda. Yang jalannya masih panjang untuk sejak awal mengembangkan diri menjadi manusia yang berkualitas tinggi.

Kepada Yayasan Alit dan teman-teman, sukses, sehat selalu, terus berjaya di dalam karya.