Tradisi dan Ruang Belajar Anak tentang Desanya

 

Sungai Campuhan, Sumber Kehidupan dan Ruang Belajar Anak. Foto: Alit Bali

Desa wisata Tampak Siring menggunakan aliran Sungai Campuhan atau campuran antara Sungai Pakerisan dengan Sungai Petanu sebagai tempat mlukat atau pembersihan pikiran dan jiwa secara spiritual dalam diri manusia. Tak heran, tempat ini ramai dikunjungi anak-anak hingga dewasa di waktu bulan purnama dan orang-orang yang mencari kesembuhan.

Campuhan, dalam Bahasa Bali berarti campur atau pertemuan dua unsur. Itulah juga yang menjadi asal nama Sungai Campuhan. Sungai ini memang menjadi tempat bertemunya aliran air Sungai di Bali bagian Barat dengan Bali bagian Timur. Sungai Campuhan memiliki sejarah yang berkaitan dengan ritual Hindu Bali dan harmonisasi alam semesta untuk kebaikan manusia.

Rsi Markandya adalah seorang resi yang namanya memiliki kaitan erat dengan penggunaan Sungai Campuhan sebagai salah satu tempat suci. Bersama para pengikutnya, Rsi Markandya membuka pemukiman di sekitar Sungai Campuhan. Pertemuan dua sungai, menjadi potensi penting Sungai Campuhan. Di tempat ini, masyarakat Bali menggunakan air di sungai sebagai media penyembuhan. Masyarakat percaya, energi pertemuan dua sungai di Campuhan memberikan kekuatan pula dalam penyembuhan. Dalam Bahasa lokal, penyembuhan disebut dengan ubad (obat), dan hingga sekarang berganti penyebutan menjadi Ubud.

Sungai Pakerisan yang mengalir di Desa Tampak Siring dan membawa aliran air Sungai Campuhan, selain sebagai tempat ibadah, juga digunakan sebagai tempat rekreasi anak-anak dan keluarga.  Aliran sungai yang penuh riak air namun tak begitu dalam, menjadikan area permainan air yang asyik bagi anak-anak. Tak hanya bermain air di sungai dengan pemandangan alam yang natural, desa pun mengelola aliran air ini menjadi wahana arum jeram atau tubing bagi anak-anak dan dewasa. Kepala desa pun secara rutin mengajak masyarakat, klien adat & dinas, serta petugas desa untuk membersihkan aliran air ini bersama-sama dan hasilnya pun dinikmati bersama.

Doa bersama untuk anak-anak sedunia. Foto: Alit Bali

November lalu merupakan bulan spesial dimana Hari Anti Kekerasan Pada Anak tanggal 19 November 2020 dan Hari Anak Sedunia tanggal 20 November 2020 dirayakan bersama-sama dengan anak-anak desa Tampak Siring di Sungai Campuhan.  Kami melakukan doa dan perenungan bersama dengan perwakilan 15 anak-anak  desa yang dipimpin langsung oleh Jero Mangku Dalam Banjar Kawan, Klien adat & dinas, beserta bapak Perbekel I Made WIdana menghaturkan banten dan doa di Chatur Buana.

Perenungan berlanjut dengan penyampaian pesan kepada anak-anak oleh I Made Widana, Perbekel desa Tampak Siring mengatakan, "Di Hari Anti Kekerasan pada Anak ini kami berdoa bersama kepada Hyang Widi sebagai perwakilan dari teman-teman mereka di seluruh dunia, memohon perlindungan, keselamatan, dan kekerasan yang tidak akan terjadi lagi pada anak-anak di lingkungan tempat mereka bertumbuh". 

Dalam perenungan bersama, anak-anak mulai menyalakan lilin bersama lalu menundukkan kepala dan melakukan hening selama beberapa menit. Selesai perenungan, salah satu anak laki-laki berkata kepada saya bahwa ia rindu sekolah dan bertemu kawan-kawannya.  Saya jawab sambil tersenyum, “Sabar ya, semoga tahun depan kamu bisa bertemu lagi dengan kawan-kawan di sekolah.” Ia jawab, “ ya Kak!”, sambil mengelus-elus kepalanya sendiri.

Di tengah kerinduan untuk bersekolah kembali, Alit Bali mengajak anak-anak bermain bersama di alam raya. Sungai Campuhan yang memiliki kesucian bertemu dengan anak-anak yang juga masih bersih. Anak-anak seperti mendapatkan ruang untuk meluapkan keceriaan dan tak sabar segera melompat ke sungai. Antusias anak-anak desa yang hadir selama acara berlangsung tercermin dari keaktifan mereka menonton video dan berebutan mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang desa mereka sendiri. Permainan ini bertujuan untuk mendorong anak-anak mengenal desa mereka sendiri dengan cara yang menyenangkan. Setelah makan siang bersama, anak-anak pun segera terjun ke sungai. Momen ini sekaligus menjadi acara puncak Hari Anak Sedunia.  

Penjaga tubing yang berasal dari penduduk setempat dengan sigap memberikan jaket pelampung kepada anak-anak yang akan bermain tubing dan mereka bersiaga di titik-titik belokan sungai untuk menjaga anak-anak yang duduk santai di atas ban. Mata anak-anak diajak untuk menikmati indahnya pemandangan alam dan merasakan riak-riak air yang membawa ban mereka menelusuri aliran Sungai Campuhan. Pengalaman yang membawa mereka ikut menghargai potensi lokal mereka sendiri.

Penulis: Paskalina Putri, Koordinator Wilayah Bali-Alit Indonesia