• Indonesia
  • admin@alitindonesia.or.id
  • 0821-3187-5187
Alit Indonesia

Konten

Tentang Zonasi

Anda pasti udah muak dengan nyinyiran dan ocehan yang sliwar sliwer sepanjang seminggu ini. 
Oke saya tidak bermaksud ceramah atau crita nabi nabi yang penuh nasehat...
Sebagian besar anak-anak yang saya dan teman-teman yayasan ALIT asuh sejak tahun 1998 hingga kini adalah anak-anak miskin/marginal yang selalu saja dari tahun ke tahun ketemu yang namanya sulit, mahal dan tertolak masuk sekolah NEGERI. 
kalau dulu sekitar thn 1998-2005 banyak ditemukan anak-anak dari keluarga urban yang tinggal di bantaran sungai dan kuburan tua yang tak beridentitas. Maka pendampingan yg dilakukan adalah mendorong ortu untuk mengurus identitas termasuk advokasi soal akte kelahiran yang mudah dan gratis. kepemilikan identitas juga membantu mereka mengurus askeskin yang berubah jadi jamkesda dan jamkesmas. 
Sebagian yang lain yang terbelit soal biaya masuk sekolah dengena rentetetan tetek bengek bayar ini itu. tetap advokasi soal pendidikan bebas biaya itu dilakukan. karena tercantum dalam UUPA dan UU Sisdiknas bahwa pendidikan dasar adalah bebas biaya. Akhirnya sebagian besar anak dampingan kita bisa sekolah di SD negeri. 
Beranjak ke tahun 2006-2011 anak-anak mulai masuk SMP, kesulitan lagi. kali ini soal NEM. Hampir semua jauh dari nilai minimal masuk SMPN. Kami hampir putus asa menyemangati mereka untuk tetap sekolah karena alasan biaya sekolah swasta tidak gratis. 
Kenapa NEM mereka jelek? banyak faktor. Untuk membagi waktu antara sekolah dan bekerja di jalan membantu ortu hingga maghrib sudah membuat mereka lelah. Malam saat mengerjakan PR bersama kami saja mrk sudah nampak sangat lelah. Malam balik ke gubug gubug mereka yang dapat dibayangkan nyamuk serta bau busuk air sungai yang menyengat. Mereka juga harus bangun subuh membereskan alas tidur dan semua rongsokan agar tidak kena pembersihan satpol PP. Pagi mereka berangkat sekolah dengan seragam lusuh dan tanpa sarapan. 
jumlah mereka tidak sedikit..lebih dari 150 anak di satu titik..totalnya kami monitor di 3 titik..sekitar 500an anak kala itu.
Semangat kami yang penting mereka sekolah. 
SMP swasta...tidak gratis. Bukan berarti kita bagi bagi duit untuk bayar SPP, tapi meningkatkan ekonomi keluarga dan memberi pengetahuan para ortu tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. Ortu pun sebagian besar buta huruf juga.
ternyata...ada kecerdasan lain yang mereka punya...karena hidup sebagai pemulung mereka sungguh kreatif. ide-ide kami dalam membentuk karya kerajinan dari semua barang sampah itu telah mempengaruhi kreativitas mereka menghasilkan karya seni daur ulang hingga tembus ke pasar dunia..Singapura dan Australia.hingga bolivia. 
beberapa diantara mereka memilih sekolah terbuka saja atau ikut kejar paket. Agar semangat berkarya itu tidak pupus..alhamdulillah mereka lulus hingga paket C setara SMA.
Angkatan mereka kini sudah dewasa dan berumah tangga. Alhamdulillah gak ada yang gedenya jadi orang jahat...ngerampok uang rakyat, meneror, mengkafir kafirkan orang lain..atau menggunduli hutan. Semua jadi orang baik..dan selalu sambung tali silaturahmi diantara kami. Sepanjang tahun...
Beberapa anak sudah ikut saya keliling Indonesia memberi materi tentang pengelolaan barang bekas menjadi produk karya seni daur ulang. 
Pendidikan itu soal membangun diri menjadi manusia dewasa yang baik dan mampu optimalkan bakat yang telah dibekalkan pada Tuhan untuk mereka. 
Saya bersyukur tentang mereka.
Pendidikan itu menghasilkan orang baik, orang berguna untuk sesama..untuk lingkungannya (ps. 3 UU SISDIKNAS, ps 50 UUPA)

 

Ditulis oleh : Yuliati Umrah
#educationforall
#equalityforallchildren
#21yearsofawakening
#ALITIndonesia